Setiap lukisan lahir dari satu perburuan yang sama: cahaya. Seperti para pelukis impresionis yang mengejar perubahan warna langit dari fajar hingga senja, Susilo Bambang Yudhoyono menghabiskan hari demi hari mengamati bagaimana cahaya matahari menyentuh laut, awan, dan lanskap negeri lalu mengabadikannya di atas kanvas. Namun bagi SBY, cahaya bukan sekadar unsur visual. Cahaya adalah metafora dari harapan itu sendiri.
Di balik setiap sapuan kuas, ada perjalanan hati yang panjang. Lebih dari lima tahun SBY melewati masa paling gelap dalam hidupnya sejak kepergian sang istri tercinta, Ani Yudhoyono. Dari titik itulah ia menemukan kembali seni lukis bukan sebagai pelarian, melainkan sebagai jalan pulang menuju harapan. “Melukis menjadi source of hope saya,” ungkapnya. Setiap kanvas yang ia selesaikan adalah bukti bahwa dari kesedihan yang paling dalam sekalipun, seseorang tetap bisa menemukan cahaya dan berjalan maju.
Pameran ini mengajak Anda menyaksikan langsung 77 lanskap hati SBY, dari kenangan yang dirawat, ketenangan yang direnungkan, hingga keresahan atas dunia yang ia suarakan lewat kanvas. Sebuah undangan untuk melihat bahwa di balik jenderal, presiden, dan negarawan, ada seorang manusia yang terus mencari dan menemukan cahaya dalam hidupnya.